Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terjebak Pinjaman Online?

Menurut Dosen Sosiologi FISIPOL dari Universitas Gajah Mada yang bernama Wahyu Kustiningsih banyak kalangan yang rentan terjebak pinjaman online baik itu legal atau ilegal yaitu perempuan, terlebih lagi pada masa pandemi saat ini.

Kenapa kalangan perempuan, hal tersebut dikarenakan oleh di masa normal saja, banyak kalangan perempuan rentan melakukan pinjaman apalagi pada saat pandemi yang dimana menambah beban para perempuan.

Kemudian pandemic juga membuat banyak perempuan terutama ibu rumah tangga menerima kenyataan jika pendapatan sang suami semakin menurun hari demi hari, namun kebutuhan untuk bertahan hidup malah semakin meningkat. Selain memiliki peran dalam mengurus domestik, para ibu rumah tangga juga mendampingi anak-anak mereka ke sekolah, belum lagi jika mereka bekerja juga.

Alasan tersebutlah yang membuat mayoritas perempuan banyak terjerat pinjol terutama yang berlokasi di pedesaan. Jalan pintas yang cepat dari pinjol tersebut memberikan sejumlah pinjaman, lalu persyaratan serta ketentuannya mudah dan proses pencairan pinjaman yang sangat cepat dibandingkan meminjam di bank. Pada kondisi terdesak oleh ekonomi, masyarakat lebih suka menggunakan jalan pintas agar dapat menyambung hidup.

Apabila telah terjerat pada pinjol, umumnya perempuan tidak dapat lepas dari jeratan tersebut stigmasi atau pelabelan dari masyarakat sekitar yang mengatakan jika orang tersebut tidak dapat mengelola keuangan secara baik.

Stigmasi tersebutlah yang membuat perempuan yang terjerat pinjol menjadi tertekan disebabkan oleh tidak kuat menahan rasa malu dari masyarakat sekitarnya. Berikut ini beberapa hal yang membuat kalangan perempuan mudah terjebak pinjaman online.

Proses dalam mengajukan pinjaman online lebih mudah

Pada saat kondisi sulit yang wajib dijalani oleh suatu keluarga, membuat kalangan perempuan mengambil sebuah jalan pintas dengan cara melakukan pinjaman online. Sekarang ini pinjaman online memiliki kelebihan dalam kemudahan persyaratan serta ketentuan dan proses pencairan dana yang terbilang cepat jika dibandingkan dengan mengajukan pinjaman di bank yang memiliki proses yang rumit.

Munculnya stigma

Selain rentan menjadi korban dari pinjaman online, kaum perempuan yang melakukan pinjaman online mendapat stigma dari para masyarakat di dekatnya. Beberapa stigma tersebut contohnya seperti tidak mampu dalam mengelola keuangan secara baik, dianggap orang yang konsumtif, dilabeli seseorang yang suka berhutang dan banyak lagi.

Adanya seorang masyarakat yang terjerat dalam pinjaman online tersebut menunjukkan jika sistem sosial atau supporting system disekitarnya tidak bekerja dengan baik. Korban yang pikirannya buntu merasa jika masyarakat disekitarnya tidak ada yang dapat membantu atau memberikan dukungan ketika terdesak oleh ekonomi.

Maka dari itu, apabila terdapat seseorang yang terjerat diharapkan bagi para tetangga sekitarnya untuk dapat memberikan bantuan maupun dukungan serta mencarikan solusi baginya. Masyarakat dapat membuat suatu gerakan bersama untuk menghadapi krisis pada saat pandemi, termasuk juga untuk persoalan ekonomi, caranya yaitu dengan membangun suatu kelompok usaha untuk skala kecil.

Memerlukan literasi pada bidang digital

Kondisi pada pandemi Covid-19 ini mengubah semua aspek kehidupan saat ini yang awalnya luring sekarang menjadi daring. Oleh karena hal tersebutlah paparan untuk melakukan pinjaman online di kalangan masyarakat menjadi semakin besar. Akan tetapi kondisi pada saat ini belum diikuti oleh literasi serta edukasi secara baik mengenai cara penggunaan teknologi digital dengan bijak.

Maka dari itu, literasi pada bidang digital dinilai sangat penting untuk dapat menekan risiko terjerat pinjol. Selain daripada itu, edukasi mengenai pinjaman online tersebut perlu diperkuat lagi agar dapat menekan resiko munculnya banyak korban lagi. Hal tersebut akan terus terjadi dan menjadi sebuah catatan penting untuk dapat mendampingi para masyarakat.

Tidak bekerjanya sistem sosial di sekitar

Adanya seseorang yang terjerat oleh pinjaman online disebabkan oleh sistem sosial di lingkungan sekitar tidak bekerja. Masyarakat perlu menekan prinsip untuk memperkuat sistem sosial pada lingkungan ketika terdapat salah seorang warga yang terkena pinjaman online.

Perempuan rentan menjadi seorang korban dari tindak kriminalitas, terutama pada era teknologi yang semakin maju saat ini. Salah satu yang menjadi penyebab terjerat pinjol yaitu dikarenakan kurangnya sebuah literasi digital dalam menekan resiko dari pinjaman online. Edukasi mengenai dampak pinjaman online tersebut harus diperkuat agar tidak ada lagi munculnya korban.

Selain dari masyarakat, pemerintah juga perlu untuk meningkatkan pengawasan terhadap pinjol dikarenakan mayoritas pinjol sekarang ini masih bersifat ilegal dimana tidak terdaftar serta belum memiliki izin yang sah dari OJK atau Otoritas Jasa Keuangan.

Kemudian, penegak hukum juga diharapkan dapat merespon secara cepat serta berinisiatif untuk melindungi para masyarakat yang menjadi korban terkena jeratan pinjaman online. Masyarakat juga diharapkan untuk dapat melakukan pengawasan tersebut, sebab kekuatan berasal dari masyarakat dalam melakukan pengawasan dan dapat melaporkan keadaan yang terjadi di sekitar lingkungannya.

Menurut Dosen Sosiologi FISIPOL dari Universitas Gajah Mada yang bernama Wahyu Kustiningsih banyak kalangan yang rentan terjebak pinjaman online baik itu legal atau ilegal yaitu perempuan, terlebih lagi pada masa pandemi saat ini. Kenapa kalangan perempuan, hal tersebut dikarenakan oleh di masa normal saja, banyak kalangan perempuan rentan melakukan pinjaman apalagi pada saat pandemi yang…