Mengapa Harta Warisan di Adat Minangkabau jatuh ke Tangan Perempuan?

Mengapa Harta Warisan di Adat Minangkabau jatuh ke Tangan Perempuan?

Warisan adalah barang yang telah ditinggalkan oleh orang yang telah meninggal dunia yang kemudian diserahkan dan diterima oleh sang ahli waris. Warisan tersebut dapat berupa gelarannya, pusaka rendah, atau bahkan pusaka tinggi.

Seseorang yang sudah mengatakan bahwa telah menerima akan amanah dari ibunya sendiri atau orang lain yang kemudian dia mengikrarkan bahwa dia adalah seorang ahli waris.

Didalam hukum waris agama Islam ataupun perdata, pembagian atas warisan tersebut dapat diberikan kepada anak perempuan ataupun anak laki-laki yang telah sesuai dengan ketentuan dan berhak menjadi hak miliknya.

Namun, didalam hukum pada ada Minangkabau, warisan tersebut akan jatuh kepada anak perempuan yang tidak serta merta menjadi hak miliknya namun menjadi peralihan akan fungsi serta tanggung jawab akan pengelolaannya.

Harta waris tersebut akan diberikan ke ahli waris yang telah menurut akan garis keturunan sang ibu

Berikut penjelasan tentang aturan akan warisan didalam adat Minangkabau.

Didalam adat Minangkabau, harta warisan telah dibedakan menjadi 3, yaitu :

  • HPT (Harta Pusaka Tinggi)

HPT (Harta pusaka tinggi) merupakan harta yang telah diperoleh secara turunan (turun temurun) dari garis keturunan nenek moyang sang ibu. Jadi, jika sang pewaris telah meninggal dunia maka hartanya akan dialihkan langsung ke garis keturuan sang ibu.

Yang merupakan harta pusaka tinggi :

  • Tanah,
  • Sawah,
  • Ladang,
  • Kebun,
  • Kolam,
  • Rumah gadang, dan
  • Lambing akan kebesaran yang berupa pakaian adat atau keris.

Harta ini sifatnua tidak untuk dimiliki dan tidak dapat diperjual belikan. Harta ini hanya dapat digunakan, dikelola, dan dimanfaatan bersama-sama.

HPT akan diberikan ke kaum perempuan dengan didasarkan oleh sistem kekerabatan. Namun demikian, HPT tersebut tetap masih ada didalam pengawasan serta masih diatur oleh para pemuka adat setempat.

Jika terjadi keadaan yang darurat dan terpaksa, HPT dapat digadaikan ataupun dijual dengan 3 alasan, yaitu :

  • Jenazah yang terbujur ditengah rumah gadang,
  • Adanya anak gadis yang mau menikah namun tidak memiliki biaya, serta
  • Rumah gadang rusak atau katirisan dan memerlukan renovasi

Di HPT ini, secara hukum adat, sang ayahpun tidak dapar memilikinya karena beliau bukan pemilik terdahulunya.

HPT ini akan langsung terwariskan sendiri yang dilakukan secara hukum adat yang penguasaannya dipegang oleh sang ibu. Sementra untuk pengelolaanya dipegang oleh keponakannya. 

Hubungan HPT ini dengan perempuan ternyata terjadi sangat erat.

Mengapa Harta Warisan di Adat Minangkabau jatuh ke Tangan Perempuan?

Dimana perempuan telah diibaratkan sebagai seorang makhluk yang senantiasa lebih lemah daripada pria. Maka para perempuan harus selalu dilindungi dan jaga. Perempuan Minangkabau akan selalu hidup didalam aturan akan tradisi dan adat yang tentunya sangat ketat.

Mereka tidak dapat hidup dengan bebas layaknya pria. Para perempuan harus selalu hidup didalam batasannya yaitu sebagai calon ibu.

Berbeda dengan pria. Pria diidentikan dengan makhluk yang sangat kuat. Mereka dapat hidup dimana saja dengan kebebasannya. Hal ini dibuktikan dimana para pria ketika usianya sudah baliq, mereka akan lebih banyak tidur didalam surau. Pria juga diidentikan sangat perkasa dimana mereka selalu bisa hidup dan sukses dimanapun mereka berada.

  • HTR (Harta Pusaka Rendah)

HTR (Harta Pusaka Rendah) merupakan harta yang telah didapat dari berbagai mata pencarian sang orang tua. Harta warisan ini merupakan harta peninggalan yang didapatkan dari mata pencarian orang tua yang akan dibagi menurut Faradh atau hukum islam.

Didalah hukum ini, anak pria akan mendapatkan bagian lebih banyak 2kali daripada anak perempuan. Meskipun dianggap tidak adil karena mungkin saja mereka telah mempunyai kewajiban dan hak yang sama, namun didalam hukum ini, perempuan dan pria telah mempunyai tanggung jawab dan hak yang berbeda.

Didalam kehidupan para masyarakat muslim, prialah yang akan bertanggung jawab untuk menafkahi keluarganya. Berbeda dengan perempuan. Dimana jika perempuan masih berstatus gadis atau belum menikah, sejatinya dia akan menjadi tanggung jawab sang orang tua atau wali atau saudara prianya.

Sedangkan jika seorang perempuan telah menikah, maka yang bertanggung jawab atas si perempuan ini adalah suaminya.

  • Gelar (Sako)

Gelar (Sako) merupakan harta warisan yang sifatnya bukan benda, melainkan tata karma, hukum adat, dan gelar.

Sako merupakan suatu gelar pusaka yang selalu dipakai dan selalu dijalankan oleh kaum-kaum yang bersangkutan. Gelar tersebut dipakai jika telah diperolehnya kata sepakat akan siapa yang berhak meyandang sako tersebut.

Sako ini telah disandang oleh saudara pria dari kaum yang telah menurut garis keturunan sang ibu. Sako bukan suatu warisan yang berupa materi ataupun benda. Melainkan warisan gelar yang telah dimiliki oleh kaum Minangkabau sejak dahulu (turun temurun) dan terunut dari garis keturunan ibu.

Warisan adalah barang yang telah ditinggalkan oleh orang yang telah meninggal dunia yang kemudian diserahkan dan diterima oleh sang ahli waris. Warisan tersebut dapat berupa gelarannya, pusaka rendah, atau bahkan pusaka tinggi. Seseorang yang sudah mengatakan bahwa telah menerima akan amanah dari ibunya sendiri atau orang lain yang kemudian dia mengikrarkan bahwa dia adalah seorang…